Lingkup Penting Hob

Lingkup Penting Hob

Kawasan penting Heart of Borneo merupakan kawasan konservasi maupun kawasan…

Yang Anda Bisa Lakukan ?

Kawasan HoB memiliki fungsi dan daya dukung lingkungan hidup yang penting bagi 15 juta penduduk di Borneo . Oleh karena itu…

TULISAN ANDA

  • Pengembangan Potensi Mata Pencaharian Berkelanjutan Bagi Penduduk Sekitar Pegunungan Schwaner

    Thursday, 12 July 2012 | Administrator | comment (0)
    Pengembangan Potensi Mata Pencaharian Berkelanjutan Bagi Penduduk Sekitar Pegunungan Schwaner

    Oleh: Herry Mushthafa, Achmad Yanuar, Ambang Wijaya

        Pegunungan Schwaner terletak di antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah di Pulau Kalimantan, yang merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Muller dan Schwaner. Secara keseluruhan rentang Pegunungan Muller dan Schwaner adalah daerah resapan air untuk sungai-sungai utama di Pulau Kalimantan, seperti Sungai Kapuas dan Sungai Melawi di Kalimantan Barat; Sungai Barito, Sungai Katingan dan Sungai Kahayan di Kalimantan Tengah, dan Sungai Mahakam di Kalimantan Timur. Ada sebuah taman nasional di Pegunungan Schwaner, yaitu Bukit Baka-Bukit Raya yang memiliki luas sekitar 181.000 hektar (ha) yang membentang di bukit hingga lereng gunung dengan berbagai ketinggian mulai dari 150 sampai 2.278 meter (m) di atas permukaan laut (dpl), termasuk sebagian wilayah Taman Nasional Betung Kerihun di Pegunungan Muller. Daerah ini juga kaya hasil hutan (berupa kayu) dan Hasil Hutan Non Kayu (HHNK), seperti buah dan sayuran, tanaman obat, dan wilayah hidup satwa liar, dan mampu mendukung kehidupan masyarakat sekitar.
    Terdapat enam desa di sekitar Pegunungan Muller dan Schwaner untuk diteliti, sebagai gambaran, dan sosialisasi potensi pelaksanaan kegiatan mata pencaharian yang berkelanjutan. Keenam desa itu adalah Desa Rangan Kawit, Desa Tumbang Tubulus (dua desa yang berdekatan dengan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya), Desa Tumbang Jojang, Desa Tumbang Kelasin, Desa Harowu dan Desa Masukih. Berdasarkan survey mengenai kehidupan masyarakat setempat di enam desa sasaran pelaksanaan, penelitian difokuskan pada dua desa, yakni Harowu dan Masukih yang berbatasan langsung dengan kawasan Pegunungan Schwaner sebagai proyek percontohan untuk analisis pengembangan mata pencaharian berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan dari tanggal 20 Januari 2010 sampai 3 Februari 2010 di kedua desa.
    Proses belajar bersama dan sosialisasi penelitian dilakukan intensif pada pengembangan mata pencaharian masyarakat setempat di Desa Harowu dan Masukih yang merupakan zona penyangga Pegunungan Muller-Schwaner. Kedua desa ini terletak di wilayah terpencil di Kecamatan Miri Manasa sebelah utara Kabupaten Gunung Mas. Informasi mengenai mata pencaharian masyarakat dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dilakukan melalui pertemuan desa, diskusi dan wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh kunci penduduk desa, masyarakat setempat dan yang terpinggirkan.
                 Dari hasil penelitian ini dapat digambarkan bahwa kegiatan ekonomi utama kedua desa selama ini  bertumpu pada upaya menjalani mata pencaharian yang tidak berkelanjutan yaitu pertambangan emas tradisional (mendulang emas) dan semi-modern (menggunakan penyedot pasir), serta menebang kayu hutan alam. Kedua kegiatan tersebut semakin sulit mendapatkan hasil karena produksi terus menurun dan menghancurkan lingkungan.
    Pembangunan ekonomi alternatif yang berkelanjutan bagi masyarakat memiliki empat jenis keuntungan aktivitas kerja untuk ditinjau, yaitu melalui pengembangan perkebunan karet dan aloe (gaharu) serta peternakan ayam dan babi. Pemasaran hasil perkebunan karet dan aloe lebih baik daripada pertanian. Hasil dari dua perkebunan tersebut, misalnya karet lateks dapat dipasarkan ke Palangka Raya, ibukota Provinsi Kalimantan Tengah. Sementara gaharu dapat dipasarkan ke Pontianak, Kalimantan Barat . Selain itu hasil pemasaran ternak hanya menguntungkan pada tingkat daerah setempat (Harowu dan Masukih).
        Potensi pengembangan mata pencaharian yang berkelanjutan merupakan pendekatan yang bisa menjembatani kepentingan konservasi dan peningkatan kehidupan yang memadai bagi masyarakat, yang diarahkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya nilai-nilai ekonomi berkelanjutan. Secara rinci tujuan penelitian ini untuk memberikan wawasan tentang pengembangan ekonomi yang berkelanjutan (termasuk substansi konservasi), membangun komitmen dan mekanisme kehidupan yang berkelanjutan, serta menyetujui pembagian peran antara masyarakat, pemerintah dan swasta. Pemerintah, organisasi non-pemerintah dan sektor swasta diharapkan konsisten dalam berbagi peran di kawasan konservasi
    untuk meminimalkan investasi dalam skala besar, serta mendukung pengembangan ekonomi masyarakat di desa-desa di daerah Pegunungan Schwaner.
        Masyarakat di kedua desa tersebut mulai menyadari bahwa penambangan emas saat ini kian jauh dari desa, emas lebih sulit didapat dan pendapatan terus menurun. Begitu juga dengan mengambil kayu, bahkan jenis tertentu kayu yang digunakan untuk pembangunan masyarakat desa, seperti kayu besi Eusideroxylon zwageri (ulin) saat ini kian sulit ditemukan. Akibatnya masyarakat menyadari bahwa usaha pertambangan emas dan mencari kayu hutan bukan mata pencaharian yang berkelanjutan dan berharap tersedia upaya yang dapat diusahakan menjadi sebuah usaha yang tidak lagi alternatif, tetapi menjadi upaya utama, meskipun tidak sebesar perolehan dari penambangan emas.
        Saat ini masyarakat setempat telah menemukan upaya budidaya yang berkelanjutan, seperti karet, gaharu, rotan, dan bahkan sarang walet juga dapat dibudidayakan. Karet Hevea brasiliensis diharapkan menjadi fokus harapan berikutnya, karena harganya yang semakin hari menjanjikan, dan disebut sebagai "emas putih". Pilihan berikutnya adalah juga melanjutkan usaha rumah tangga yang sudah biasa dilakukan, sedangkan bagi yang biasa melakukan perladangan berpindah berusaha melakukan perladangan menetap.
        Komitmen masyarakat dalam pengembangan mata pencaharian juga harus disertai dengan komitmen pemerintah untuk tidak menempatkan investasi skala besar, terutama penebangan kayu, perkebunan dan pertambangan di sekitar desa, karena ditakutkan timbul konflik dalam perebutan sumber daya alam dan konflik sosial, misalnya konflik yang terjadi antar masyarakat dan perusahaan maupun konflik antar masyarakat sendiri.

Post Your Comment

  • Enter to this box   


Comments