Lingkup Penting Hob

Lingkup Penting Hob

Kawasan penting Heart of Borneo merupakan kawasan konservasi maupun kawasan…

Yang Anda Bisa Lakukan ?

Kawasan HoB memiliki fungsi dan daya dukung lingkungan hidup yang penting bagi 15 juta penduduk di Borneo . Oleh karena itu…

TULISAN ANDA

  • Restorasi Koridor Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) dan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK)

    Friday, 10 June 2011 | Administrator | comment (1)
    Restorasi Koridor Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) dan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK)

    Perubahan iklim yang semakin terasa diperlukan dua pendekatan dalam menghadapinya; Adaptasi dan Mitigasi. Adaptasi lebih menekankan penyesuaian tehadap situasi dalam perubahan iklim itu sendiri termasuk kerentanan terhadap sesuatu yang paling mendasar seperti pola penghidupan masyarakat ataupun hal yang mempengaruhinya, sedangkan mitigasi adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi perubahan iklim tesebut, seperti restorasi, pengurangan energi yang dihasilkan fosil, penguangan nilai emisi yang dihasilkan dan lain-lain. Dalam menyatukan kedua pendekatan tersebut dicarikan suatu kegiatan yang mampu mempengaruhi paling tidak dalam tingkat lokal yaitu melalui restorasi. Dalam landskap koridor Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) dan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) menjadi penting sebagai upaya menghubungkan fragmentasi kawasan yang sudah banyak berubah.

    Secara umum restorasi landskap adalah “a planned process that aims to regain ecological integrity and enhance human well-beingin deforested and degraded lanscapes” [1]. Ecological integrity dimaksudkan sebagai sebuah keadaan dari satu pembangunan ekosistem yang secara karekteristik dari lokasi geografi, berisikan penuh berbagai spesies asli dan proses yang mendukung berada dalam jumlah yang layak, sedangkan well-being, lebih dimaknai sebagai kesejahteraan yang mencakup faktor-faktor membuat kehidupan manusia lebih baik, seperti ekonomi, perdamaian, kesehatan, stabilitas dan pemerintahan yang baik. Dari definisi tersebut restorasi menjadi penting ketika berhadapan dengan kebutuhan mitigasi dan adaptasi, artinya upaya-upaya yang dilakuan untuk mengatasi perubahan iklim disesuaikan dengan pencarian solusi bagi proses adaptasi yang disebabkan kerentanan nilai penghidupan masyarakat dengan makna yang lebih tegas mencari nilai yang seimbang antara manfaat restorasi dan penghidupan masyarakat secara langsung.

    Proses implementasi program restorasi adalah menentukan wilayah yang akan ditanam berupa lahan terbuka yang sudah terfragmentasi melalui kajian Geographic Information System (GIS) dengan melihat wilayah-wilayah hutan di Koridor berdasarkan tutupan hutan yang ada, dari analisis ini kemudian di groundcheck kelapangan lokasi-lokasi menjadi target. Selanjutnya mendeteksi wilayah-wilayah tersebut berdasarkan kepemilikan lahan di masyarakat. Proses ini dilakukan melalui pendampingan yang terus menerus dalam mencari kesepakatan dalam pengelolaan lahan, proses implementasi dan kesepakatan-kesepakatan bersama masyakarakat pemilik lahan. Secara umum ada beberapa pentahapan restorasi yang dilakukan bersama masyarakat yaitu:

    1. Persiapan lokasi yang dijadikan target untuk retorasi
    2. Diskusi mengenai lahan dan memulai perencanaan
    3. Pembentukan kelompok
    4. Pembuatan rencana kerja restorasi
    5. Implementasi

    Pemilihan bibit yang akan ditanam di koridor disesuaikan dengan kebutuhan konservasi jenis dan ekonomi praktis, artinya pengayaan bibit lokal disesuaikan dengan kebutuhan nilai ekonomi dari masyarakat. Selain itu, pertimbangan lain dalam pemilihan jenis berdasarkan status hukum peruntukan kawasan, seperti Areal Penggunaan Lain (APL), Hutan Produksi (HP) dan Hutan Lindung (HL), seperti untuk kawasan Hutan Lindung yang konturnya cukup terjal diupayakan ditanam dengan pohon-pohon yang memiliki daya tangkapan air yang cukup tinggi yang diselingi dengan tanaman buah-buahan lokal dan pakan Orangutan. Untuk kawasan Hutan Lindung, berdasarkan aturan yang ada pohon tidak boleh diambil kayunya, cuma dimanfatkan jasanya saja, sedangkan untuk kawasan Hutan Produksi, paling tidak inisiasi menuju hutan tanaman rakyat (HTR) menjadi salah satu pilihan. Untuk wilayah-wilayah yang cenderung datar dan berada di kawasan APL ditanami pohon yang mempunyai nilai manfaat ekonomi seperti Karet, Gaharu yang diselingi dengan tanaman-tanaman lain yang mempunyai nilai ekonomi bagi masyarakat.

    Pengembangan restorasi bersama masyarakat ini, tetap mengedepankan proses peningkatan kapasitas bagi masyarakat dalam mengelola restorasi. Peningkatan kapasitas ini didapat melalui sharing knowledge yang ada di masyarakat, pemerintah maupun dengan lembaga lain. Proses pembelajaran bersama memberi nilai positif bagi masyarakat terutama dalam kemandirian dalam pembibitan, pengelolaan kelompok, membangun rencana kegiatan dan lain-lain. Hal ini berangkat dari permasalahan yang selama ini selama ini terjadi, masyarakat hanya diberi bantuan tanpa diberi pemahaman dan kapasitas yang cukup, sehingga proses pembelajarannya yang seharusnya mereka dapatkan tidak seimbang dengan hasil yang akan mereka dapatkan, untuk menjembatani ketergantungan terhadap pemerintah, proses yang dilakukan oleh WWF sedikit merubah dengan membangun pengelolaan yang lebih mandiri. Untuk membangun pemahaman bersama terutama dalam bidang kemampuan masyarakat salah satu upayanya yaitu transfer knowledge antar masyarakat, dimana kelompok-kelompok yang sudah cukup maju dalam pengelolaan dan pembibitan serta penanaman memberi bantuan pengetahuan kepada kelompok lainnya, sehingga berbagi pengetahun terus terjadi antar masyarakat.

    [1] Nigel Dudley, Stephanie Mansourian and Daniel Valauri, 2005. Forest landscape Restoration in Context, in: Stephanie Mansourian, Daniel Valluri and Nigel Dudley (Eds) Forest Restoration in Landscapes. Springer scienes+Businnes Media inc., New York, pp. 5-6.

Post Your Comment

  • Enter to this box   


Comments

  • adri aliayub 3 years, 3 months ago
    mantabb...lanjutkeun.!!